Let Them Boys Be Boys (stop making things more girly for everybody)

September 27, 2014

Ini postingan bakal panjang deh kayaknya. Tapi ini salah satu bentuk dari anxiety gw yang udah gue pendem dari zaman dulu kala, Soalnya kadang kalo ngobrol sama temen-temen gue biasanya lebih banyak 'ngejoke' dan hahahihi aja ngomongin perasaan. Lumayan lah, kita berteman ber-7. Tiap ketemuan yang sharing pengalaman hidup.

Ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa gue diskusiin sama mereka, jadi gue tumpahkan ke blog ini. Misalnya tentang teori alien, teori kuantum, pemahaman religiositas, dan bahkan isu feminisme, dll. Percayalah, gue ini sebenernya nggak lucu, biasanya juga 100% serius. Makanya kadang, gue amaze juga kalo orang aneh kayak gue punya sahabat-sahabat yang masih mau temenan sama gue, Hahahaha.

-
Oke, topik hari ini gue ingin mulai dengan pertanyaan, Simple banget. 

untuk cewek:
"Menurut kamu ini cowok cakep atau nggak? Cute? Ganteng? 

untuk cowok:
"Apakah kebanyakan cewek-cewek di sekeliling kamu suka cowok-cowok seperti ini? Apakah kamu cowok-cowok dengan gaya seperti ini?"


Cowok-cowok bertapang 'bersih' ini memang tampan. Yah, setidaknya dengan adanya halyu masuk ke Indonesia, semua cowok-cowok tiba-tiba menjadi cute, bersih, smiley, lucu, sangat fashionable. Di saat itulah nilai-nilai fenimisme radikal kayaknya udah merajalela. Jadi buat cowok-cowok yang udah mulai-mulai menjurus ke arah 'perbaikan diri' yang lebih rapi, lebih fashionable, lebih teratur, coba tarik napas sejenak lalu pikir deh dalem-dalem. Kerapian kalian ini masih cowok nggak? Apakah 'kerapian' dan 'keteraturan' kalian ini adalah efek dari penyebaran paham fenimisme apa nggak?

Jujur, gue nggak ada masalah sama cowok-cowok feminim. Hal yang gue mau tekankan di sini adalah gerakan emansipasi wanita yang melahirkan feminisme ini kayaknya udah jadi hagemoni sendiri deh. (Hegemoni: Di saat lu ga sadar bahwa lu sudah terpengaruh kultur, budaya, paham dr tempat lain).

-
LGBT era
Mau tau pendapat gue tentang LGBT? Tentu aja gw secara jujur menolak tindakan tersebut. Tapi perlu digarisbawahi, gue tidak membenci orang-orang LGBT. Tuhan sayang semua umatnya, jadi apa hak gue benci2 sama orang? Ga ada yekan?

Gini deh, LGBT kan diklasifikasikan sebagai dosa tuh, nah gue mikirnya sama aja tuh kayak dosa lainnya. Seperti bohong, mencuri, membunuh, dan lain-lain. Intinya, lu boleh benci dosanya, perbuatannya, tapi tetep dong sayang sama orangnya.

Dunia ini cukup luas, dan banyak banget manusianya. Gue percaya banyak jenis cinta yang ada di dunia ini selain cinta kepada keluarga, sahabat, pacar, binatang peliharaan, suami kepada istri begitu juga sebaliknya.

Tentu saja, cinta beda dengan prilaku seksual, beda juga dengan pernikahan. Berhubungan memang, tapi 3 hal tersebut berbeda. So,  gue cuma saran nih sama yg LGBT di luar sana, yang mungkin masih memiliki kepercayaan bahwa kalo jadi LGBT ga masuk surga dll. Tolong punya penguasaan diri yang kuat, agar hukum-hukum agama yang kalian percayain masing-masing itu bisa dijalankan.

Tapi itu cuma saran.

Kenapa gue nyambungin sama LGBT? Ini nih, kemarin udah makin banyak artis-artis dan penyanyi , politikus di US yang secara terang-terangan 'mendukung' LGBT. Para LGBT jangan langsung "YAY HORAYY, KITA DI DUKUNG!!"

Coba lihat baik-baik, mereka ingin dukungan kembali. Artis dan penyanyi ingin albumnya dibeli. That means more money they could make. Trus para politikus ingin suara kalian. That means more power for them. Bosen banget deh, ini dunia isinya orang-orang yang gemar duit, kekuasaan dan cewek-cewek cantik. Males banget deh, masalah klasik dari zaman manusia pertama di Taman Eden.

So, para LGBT di luar sana. Think wise yah, jgn langsung terenyuh aja hatinya kali ada orang yang berkata-kata dan membuat kamu 'tersentuh hatinya'. Gue nggak nyuruh lu buat jadi normal. Gue bingung normal itu kadang gimana? I guess normal is overrated sometimes.

Banyak tuh gue baca, penyebab seseorang jadi gay. Ada masalah kromosom dan gen dan hormon (science stuff) dan ada juga efek psikologis. Nih, yang efek psikologis banyak juga macem-macem (google aja deh apa aja). Tapi gue mohon banget, penyebab psikologis jgn sampai sistem pendidikan.

-

Sebenarnya dari panjangnya tulisan di atas itu, gue mau bahas masalah sistem pendidikan.
ANJIR YO!!! GUE BACA APAAN DARI TADI!! BUANG-BUANG WAKTU EMANG LU, KAMPRET EMANG!!!

In my defense, ini agak nyambung kok.

Lu tau kan kalo apa-apa di Indonesia ini kemakan banget sama budaya global? Apa-apa paling studi bandingnya sama negara-negara budaya global.

Tanpa kementerian pendidikan melakukan studi banding ke luar, gue agak merasa kalau sistem pendidikan kita sama. yah, mungkin kalo ada perbedaan palingan juga beti-betilah. Nah, banyak penelitian akhir-akhir ini di US bahwa banyak anak cowok yang gagal, anak ceweklah yang lebih cemerlang meraih prestasi.

Gue ini dari dulu tomboy mampus dan gue adalah pejuang kesetaraan gender. Jadi sebenarnya meski gue suka nilai-nilai feminisme, tapi kadang gue udah malas banget kalo sampe menjurus yang ke arah radikal. Dan gue sebenarnya tidak  menolak untuk bilang I'm feminist, karena gue memang maunya kesetaraan gender.

Gue MENGERTI mengapa sebagian cewek-cewek bisa mendeklarasikan dirinya feminist radikal. Soalnya, di wilayah-wilayah tertentu, kadang para cowok memang masih agak sedikit bajingan kadang (oops, sorry my language) dan ngangep para cewek adalah makhluk tuhan paling sexy, lemah dan bisa diperlakukan semena-mena. Keadaan seperti itu bisa membuat adanya pertumbuhan gerakan feminisme ekstrem emang.

Ingat Hukum Newton III, ada aksi ada reaksi. Ketika seksisme dan banyaknya hukum yang bersifat patriaki ada, maka reaksinya adalah munculnya feminisme.

Nah, ini nih. Gue sebenarnya mau ngasih tahu. Kalau sistem pendidikan di US ini lebih 'pro' ke kaum wanita dan cenderung 'mengagalkan' kaum pria. Siapapun yang bikin kurikulum, atau mendesign sistem pendidikan, dia lebih banyak memasukan feminisme ke dalamnya.

Lah gimana contoh prakteknya coba?

Pada umumnya, anak cewek biasanya memiliki asosiasi yang sopan, duduk diam, barang-barangnya tertata rapih, catatannya lengkap, rajin.

on the other hand, anak cowok biasanya memiliki asosiasi yang merupakan kebalikan dari itu. Suka berbuat masalah, bertengkar, tidak bisa diam, berantakan, dll.

Pas masih usia dini biasanya anak-anak seneng banget kan gerak-gerak ngga bisa diem. Ini salah satu alasan harus ada aktivitas outdoor buat para murid cowok. Masalahnya sekarang lebih banyak aktivitas belajar di ruang kelas daripada melakukan aktivitas luar. Gimana anak-anak cowok bisa diem coba? tenaganya aja masih banyak.

Kekurangan fasilitas untuk mengekspresikan diri atau melepaskan adrenalin dan hormon apapun itu sebenarnya merupakan ketidakseimbangan dalam sistem buat anak-anak cowok.

Lalu selain itu, anak-anak cowok seneng banget kan ikutan kompetisi. Tapi sistem kompetisi ini dihapus guru-guru. "Semua anak itu sama hebatnya dengan yang lain, ga perlulah berkompetisi."

Inget cara didiknya orang tua di film Parental Guidance, dimana pas anaknya main baseball dan out karena udah strike 3 kedua tim dinyatakan menang seri, Kompetisi macam apa itu? -_-

Trus kalo di serial TV HIMYM, pas Lily Aldrin nyuruh Marshal buat jadi pelatih basket murid-muridnya. Murid-muridnya sucks banget, sampe si Marshal jadi pelatih yang killer. Tapi Lily akhirnya marah ke Marshal dan bilang ,"That doesn't matter, everybody's here a winner!"

Meski, sebenarnya sistem kayak gitu bagus buat pengembangan rasa PERCAYA DIRI anak-anak usia dini. Tapi sistem itu bisa jadi tidak adil bagi anak-anak cowok-cowok yang emang pada dasarnya suka kompetisi.

Anak-anak memiliki cara belajar yang beda, metode ngajar yang beda juga. Nggak semuanya sama. Tapi tolong sistem pendidikan yang sangat feminist ini jgn diteruskan dong. Kasian sama anak-anak cowok yang gagal di sistem pendidikan.

Semoga lingkungan pendidikan berubah dan siapapun yang ngurusin sistem pendidikan, kurikulum, dll semoga nggak berlebihan banget menaruh nilai-nilai feminist ke dalamnya. Yang adil-adil ajalah. yang setara-setara aja.

Gimana? Nyambung nggak masalah sistem pendidikan sama bacotan gue yang di atasnya? Jujur, kadang gue suka susah menyampaikan apa yang ada di otak gw. Bahasa gue juga kacau pokoknya, makanya Pak Balla, dosen Bhs Indonesia gue ngasih nilai B.

Point gue itu, kalo anak-anak cowok bisa beradaptasi dengan sistem seperti ini, gue takut dia bakal jadi girly dan menganggap feminisme itu okay, okay aja karena dia 'survive'. Tapi buat anak-anak cowok yang nggak survive, gue prihatin kalo mereka failing their grades at school dan bisa jadi sampah masyarakat dimana kaum-kaum feminist jadi penguasa.

Agak lebay emang, tapi ini anxiaty gw sih. Kasi tau gue kalo gue salah, gue terbuka dan siap mempertimbangkan opini gue. Hahahaha



Yang sebenarnya kadang prihatin juga,

Yoan


Nonton deh si Connor Maning lucuuu... :)
apalagi pas bagian argumennya kalo dia time travel ke 1950, being married with 2 kids, having provide for the family, making all the decisions completely for everyone in the house,..... OH GOD, I WOULD NOT DO WELL AT ALL!




Nah, kalo lu dengerin baik2, si Connor juga bilang kalo pas di high school dia 'mencoba' jadi cowok baik, tapi gagal... hahahaha.

Karena cowok2 nggak harus jadi nice guy or nice boy, harusnya jadi baddass... makanya, nice guys finish last kan? Meski cewek-cewek bilang nyarinya cowok baik-baik, plis jangan bilang lu percaya gitu aja. Kita sukanya cowok-cowok bandel atau cowok-cowok baik yang memberikan impresi bahwa dia badass. hahahaha... #justsaying

You Might Also Like

0 comments