When you know the reason, you may forgive

September 30, 2014

Empat atau lima tahun lalu, kalo nggak salah bokap tiba-tiba pulang ke rumah dari Singapore buat istirahat di rumah. Soalnya didiagnosa oleh dokter kalau dia kena stroke. Tapi sepertinya masih gejala-gejala stroke yang ringan, soalnya bokap abis itu masih lanjut kerja lagi.
Tapi makin ke sini makin parah strokenya. Kalo diajak ngomong suka nggak nyambung kadang, trus suka tiba-tiba nge-freeze gitu dan sering tiba-tiba jatuh. Jatuh pas lagi jalan lah, jatuh dari motor lah, jatuh pas lagi kerja lah. Endingnya pasti istirahat di rumah.

Karena faktor kesehatan juga akhirnya bokap minta berhenti dari kerjaannya sebagai Chief Engineer soalnya nyokap tiri gue juga nggak tega sama suaminya itu. Gue juga nggak tega sama bokap kalo dia mesti kerja dengan strokenya. Mending istirahat di rumah dan pensiun dini.

Lalu kita semua dapat masalah. Yep, double problem, actually. Yang lebih kasian adalah orang-orang yang tinggal di sekitar bokap, nyokap tiri gue, V dan K.

-
Tahun ini, bokap temen gue, si L, juga pensiun. L cerita ke kita kalau dia kasian ngeliat bokapnya di rumah nggak ngapa-ngapain. Yang biasanya ada kerjaan, jadi nggak punya aktivitas sama sekali. Gue ngerasa hal yang sama, gue mikir kasian juga bokap gue. 

Karena kerjaannya, bokap biasanya pulang 2 bulan sekali, dan paling lama 4 sampai 7 hari cuti dan istirahat di rumah. Itu juga biasanya kalau diizinin perusahaan. Dari kecil gue juga biasanya sendiri doang sama adik dan nyokap. Malah kadang gue ngerasa kalau bokap di rumah, rasanya agak canggung. Canggung tapi lumayan menyenangkan sih. Soalnya tiap pulang ke rumah, bokap biasanya bawain mainan, baju baru dan kita juga pasti keluar jalan-jalan ke mall atau ke pantai.

Dari banyak buku pengembangan diri yang gue baca saat SMP dari rak-rak buku Gramedia dan Kharisma (Iya, long story kenapa gue banyak baca buku pengembangan diri, masa remaja gue agak sedikit gila dan gue membutuhkan buku-buku itu untuk mengerti diri gue agar berusaha tetap waras dan tumbuh menjadi anak baik-baik). Okay, dari buku-buku itu gue belajar juga kalau ketika seseorang merasa tidak dapat melakukan apa-apa, let's say kasarnya merasa tidak berguna lagi, maka ia biasanya marah pada dirinya sendiri dan keadaannya. Ada yang memutuskan untuk bunuh diri, ada juga yang akhirnya menimpalinya ke orang lain (semacam chain of anger, kalau kata Barney Stinson), ada juga yang berhasil berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima keadaannya.

Kebanyang nggak kira-kira masalah yang dihasilkan dari kombinasi stroke dan pensiun? Oh God, If I don't have You, I think I might want to kill someone and then kill my self after that because I can't deal with this sort of stuff. 

Ehm, beberapa efek dari stroke itu :
  1. Cedera pada otak kiri : cedera ini menyebabkan masalah ketika berbicara (speech) dan berbahasa. Kalau ngomong bisa berantakan gitu SPOKnya
  2. Cedera pada otak kanan : cedera ini menyebabkan orang yang kena stroke tidak lagi dapat memperkirakan jarak, porsi, ukuran sesuatu.
  3. Depresi : Depresi dan apathy adalah hal yang menyebalkan yang terjadi. Gue baca di artikel, katanya yang jadi istri penderita stroke atau keluarga biasanya susah banget kalo berhadapan dengan efek depresi penderita stroke. DAN ITU NORMAL, kata dokternya. 
  4. One side neglect : Terjadi masalah kepada penglihatan. khususnya yang cedera otak kiri biasanya kalau memalingkan wajahnya, dia nggak bisa ngelihat apapun di kirinya. Jadi, kalau kita melihat dengan mata kita, kita bisa mengetahui apa yang ada di samping kanan dan kiri kita kan? Nah buat penderita stroke yang punya cedera pada otak kiri biasanya 'mengacuhkan' penglihatan pada samping kiri.
  5. Labil scr emosional : Kehilangan emosi. Bisa aja dia pas nangis bukan benar-benar sedih, pas lagi ketawa bukan benar-benar bahagia. Gue nggak paham sih, tapi katanya kalau penderita stroke lagi kayak gitu, mending tepuk tangan atau snap finger biar sadar (kali).
  6. Perubahan prilaku : Biasanya penderita stroke bisa tiba-tiba memiliki perilaku yang benar-benar berubah. Suka marah, suka berhati-hati, cemas berlebihan.
  7. Memory deficits : Susah untuk belajar lagi. Jika ditanya tentang informasi di masa lalu sebelum stroke dia pasti ingat, tapi untuk belajar informasi baru akan sangat susah. 
  8. Generalisasi : Beberapa orang penderita stroke mungkin masih bisa belajar informasi baru. Misalnya menggunakan kursi roda di rumah sakit, tapi ketika sampai di rumah, dia tidak bisa menggunakan kursi rodanya kembali. Mereka biasanya memiliki banyak ketakutan akan perubahan dan lebih nyaman dengan rutinitas.
  9. Sensory deprivation dan over stimulation : Penderita stroke sangat terpengaruh dengan stimuli yang berlebih. Ketika bertamu ke rumah teman, pasti akan menyendiri di sudut tertentu dan berbicara sangat sedikit. Biasanya kalau stimuli berlebihan diberikan, penderita stroke bisa merasakan kesakitan dan stress secara psikologi.
  10. Masalah dengan bagian quality control : Efek ini menyerang kebiasaan. Penderita stroke yang biasanya bisa memakai baju sendiri, tiba-tiba lupa bagaimana melakukannya dan tidak memiliki kemampuan untuk itu. Orang yang biasanya ramah, tiba-tiba jadi tidak sopan.
V selalu ngeline gue dan curhat betapa bokap jadi super duper nyebelin. Maksud gue, bokap dari dulu emang nyebelin sih, tapi nyebelinnya udah semakin menjadi-jadi. Nyebelinnya udah berlebihan. Soalnya akhir-akhir ini bokap suka banget cari masalah. Semua orang di rumah yang lagi tenang damai dan melakukan aktivitas masing-masing bisa aja tiba-tiba di marahi dengan alasan yang sebenarnya tidak ada dan tidak masuk akal.

Depresi bokap dan ketidakmampuannya mengendalikan emosi akibat stroke dan kebiasaannya di masa muda dulu kadang ngebuat kita yang darah rendah bisa tiba-tiba kena darah tinggi dan emosi. V kemarin cerita kalau kemaren bokap marahin K karena K kelihatan mondar-mandir nyari seragam sekolahnya. Alhasil, karena bokap nggak suka ngeliat si K mondar-mandir keluar masuk kamar di pagi hari, bokap pun marah sama K.

Seragam K ternyata lagi disiapin sama V yang kebetulan mau berangkat juga. Abis bokap marah sama K, bokap pun marah sama V karena menjatuhkan sesuatu yang sebenarnya tidak sengaja dan bukan masalah besar. V yang kesel sama bokap nggak terima dimarahin pagi-pagi dengan hal yang nggak masuk akal, akhirnya V pun ngebales marahan bokap. Tapi abis itu V ngerasa bersalah dan ngechat gue.

Gue pun sependapat sama V. Pernah, 1 bulan kemarin gue ditelpon bokap. Pas gue angkat, bokap marah-marah ke gue. Lah gue lagi PMS juga kayaknya jadinya kesel, abis gue teriak, gue matiin. Bokap telpon lagi, tapi gue sengaja nggak angkat, takut gue malah marah-marah lagi. Inget deh, jangan ngomong kalo lagi marah, ntar nyesel. 

Besok paginya gue dapat chat dari V, katanya pas dini hari bokap dilariin ke rumah sakit. Kan gue ngerasa bersalah jadinya. 

Sekarang gue ngerti kenapa orang-orang dewasa di TV kadang malas pulang ke kampung halaman dan tinggal di sana lama-lama. Biasanya cuma balik ke rumah di malam thanksgiving atau natal, itu karena mereka kangen sama orang tua. Tapi tinggal lama-lama di rumah bisa bikin stres, dan sejujurnya anak-anak nggak pengen durhaka sama orang tuanya.

Daripada bikin masalah, mendingan nggak ketemu kan?

Gampang yo, semua masalah bisa diselesain dengan komunikasi. Masalahnya butuh komunikator dan komunikan untuk berkomunikasi. Kalo orang lainnya nggak bisa membuka diri dan diajak komunikasi kan sampah juga.

Gue bisa dukung bokap, tapi gue nggak bisa nolong bokap. Dialah yang harus nolong dirinya sendiri. Yep, setelah baca banyak tentang stroke, kalo bokap marah biasanya udah gue wolesin aja. Lah itu gegara stroke sih, jadi it's okay. Ketika lu tau, lu memutuskan untuk memaafkan saja.

Cita-cita gue mah yang paling bener itu hanya ingin hidup damai saja.


Semoga V dan K tetap sabar di rumah,

Yoan









You Might Also Like

0 comments