It's (not) confusing... Monogamist Edition.

February 21, 2015

"Yaelah lagu Sam Smith lagi..."
"Iya nih, diputer mulu dimana-mana."
"Tapi bagus sih, suaranya cowok banget."
"Cowo-cowo cakep yang hatinya rapuh juga ye.. hahaha."
"Cowo romantis ah."
 "...you say I'm craaazzyyy, cause you don't think I know what you've done...." *sing along all the way on the street.*

Saya tidak pernah membuka youtube untuk melihat MV-nya. Dan setelah melihat, bahkan rasa bosan mendengarkan kini malah sebaliknya. Lagu itu kembali berputar dalam playlist youtube saya.Untuk alasan personal saya kemudian... ah lupakanlah. Susah untuk mencari kata-kata yang tepat.

Kalau saya bahas tentang monogami dalam pernikahan, mungkin saya bukan sumber yang kredibel. Saya belum menikah... hahaha. Dulu sih ingin sekali punya pasangan satu itu saja cukup. Sekarang, melihat saya juga bebas memilih mau jadi apa, mau kayak apa, mau ngapain aja, saya berpikir untuk kembali menghadapkan diri saya dengan dua opsi. To be monogamist kind of girl or not to be one...

Apalagi saat masa kencan atau dating. Ketika masih ada jalan-jalan tahap kenalan. Kalau dulu waktu awal semester beberapa kisah jalan sama senior, jatuhnya baper, ke-GR-an, lalu kalau enggak jadi mesti pake strategi pemulihan jiwa. Hahaha... Sekip. It's embarrassing.

Sepertinya zaman sekarang eksklusifitas mesti menjadi wacana setelah minimal 2 bulan PDKT. I mean, hubungan serius pertama saya juga seperti itu. To be open relationship or not. Saya milih jenis open relationship saja, tapi dia maunya eksklusif. Maksud saya open juga adalah saat saya menyukai beberapa kawan, intinya saya hanya akan tetap seriusin dia. Tapi kenyataannya cuma saya sendiri yang setia. Setia sama pelajaran IPA, bukan sama siapa-siapa. Bukan sama dia atau teman yang lain. 

Mungkin saya sinis juga sama pandangan eksklusifitas dan konsep monogami. I mean look what they've done to my life. I'm lying to myself if I said I'm not effected by those things. I'm aware of it. Dan u mungkin itu salah satu tabiat saya saat sudah dekat dengan orang. Awalnya high over heels dan super baper, lalu kemudian bagian dari diri saya percaya bahwa semua yang indah ini hanya ilusi. Mungkin saya takut tersakiti. Saya rasa saya sudah terlalu rapuh. Terlalu banyak tembok yang sudah dibangun. Apalagi suatu hari ketika Anda bangun dan sadar you're not the only one... hahaha... Cuma bisa bilang. Omaygad! Gue apes banget kemaren-kemaren disepikin doang. I hope you go to hell! Hahaha... *delcon* *delcon* *delcon*


Carrie Bradshaw:
I felt like a fool. I had gone so far out on a limb with my feelings...that I didn't realize I was standing out there alone.

___

I love that sarcasm :)
___

Jared   : Will you go home with me tonight?
Carrie  :Give me a minute. I just have to make a call. *Calling Mr. Big* I just wanted to let you know. I'm at this very cool party for very cool people under 30 and this very cool writer wants to take me home.
Mr. Big:What? What the hell happened to you?
Carrie  : His name is Jared. He's really cute and really successful... and he just put his arms around me. Here... Say hello, Jared.
Mr. Big: Carrie, just get over here!
Carrie  :You get over here!
Mr. Big: I can't. I don't know where you are.
Carrie  : I am the Luna Park Cafe. Meet me out front. Your name's not on the list.

narrative by Carrie : Forty-five minutes later...I realized I was alone in a park and that it was time to call it a night.

Mr. Big: What are you doing back here? You said to meet out front.
Carrie  :This is the front.
Mr. Big: This isn't the front. This is the back. I've been waiting out front for 30 goddamn minutes.
Carrie  : You see those doors? That's the front. You were waiting at the street entrance.
Mr. Big: The street entrance is the front entrance.
Carrie  : Depending on where you're coming from.
Mr. Big: I'm here. Now, what's going on?
Carrie  : I've done the merry-go-round. I've been through the revolving door. I feel like I met somebody I can stand still with for a minute and... Don't you wanna stand still with me?
Mr. Big: You drag me out here at 3:00 a.m. To ask me if I wanna stand still with you?




In a city of infinite options...sometimes there's no better feeling than knowing you only have one.

Saya senang sekali menganalogikan kisah sehari-hari dengan serial TV SATC, HIMYM, New Girl, etc etc. Sepertinya apapun kejadian di hidup kita sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru. Seseorang di sana, di sebuah masa pernah merasakannya. Kita hanya mungkin akan berkaca dengan pilihan-pilihan yang telah mereka ambil. Memilih untuk belajar atau mengacuhkan hal itu.

Dengan semua hal telah terjadi, saya selalu berpikir jika saya hanya punya empat pilihan dengan peluang 30%, 30%, 30% dan 10%. Melihat sebuah gambar saya berdiri bersama tiga warrior princess, or should I call them warrior queen, saya jadi berpikir ini seperti sebuah pertanda. Something about them somehow affect me in some ways.

1. 30% Menjadi wanita single dengan banyak pengalaman hubungan terbuka. Tidak akan menikah karena merasa begitu independen. Golongan feminist ektrem tapi tidak sampai feminazi.

2. 30% Menikah lalu bercerai dengan masalah hak asuh anak. Workaholic but also enjoy being mother. Hate the ex-husband tapi tetap berhubungan baik karena mereka punya sejarah bersama dan juga karena anak. 

3. 30% Menikah dan bahagia bersama sang suami tapi tidak memiliki anak. 

4. 10% Menikah dengan seorang suami yang baik dan dianugrahi anak-anak lalu hidup bahagia.

What do I want?
I still can't figure it out yet. Tapi kalau mana yang sepertinya dari tiga pilihan pertama yang saya inginkan, mungkin yang ketiga. Karena yang ketiga itu seperti unconditional love.

"you and me, just us two."
"the terrible two"
"you and me, against the world."
-Siapa sih yang enggak suka disepikin kayak gitu?-

Maksud saya kurang romantis apa coba? Kedua orang tersebut tetap memilih setia bersama pasangannya. Meski beberapa pandangan bahwa sebuah keluarga sempurna harusnya punya anak. Berarti, baik si wanita atau si pria memang hanya mengharapkan teman hidup. Bukan ilusi atau harapan semu akan sesuatu yang harusnya terjadi di masa depan mereka ketika memilih bersama. Contohnya seperti ekspektasi hadirnya anak ataupun ekspektasi lain seperti keadaan ekonomi dan ekspektasi lainnya.

"Well, you choose too marry or be with your spouse because you fucking love them, not because you have your selfish expectation about things that would come later in life." Susah untuk mendapatkan jenis cinta semacam itu. Saya sendiri hampir sinis. Tapi tentu saja saya percaya hal itu masih ada dan pasti ada.

Pilihan 10% terakhir ditawarkan oleh seseorang kepada saya.
"Tapi lo mau kan nikah, punya anak dan nggak cerai?"
"Mau sih, tapi itu kayak 10 persen sisa...hahaha... kayaknya susah."

Yup, cita-cita baru saya kini menjadi seorang monogamis. Menemukan partner diskusi sepanjang umur saya dan berharap saja untuk tidak akan terlalu repot dengan kehadiran anak-anak. I mean, ngomongin tentang ini sekarang cukup menyeramkan. Saya juga baru akan lulus kuliah dan mungkin belum siap dengan cita-cita semacam ini. Tapi sepertinya hal ini mesti direncanakan dengan baik.


Fight for that 10%

I think I'm drunk right now, I mean come on... Yoan jadi seorang monogamis? Gue selalu ngerasa seperti Samantha Jones atau Miranda Hobbes di SATC, bukan Charlotte York. Miranda aja nikah karena kepaksa soalnya dia hamil duluan. Samantha? Oh my goshh... Samantha... that girl rocks!

Yoan Letsoin

You Might Also Like

0 comments