Rambut dan Konsep Penerimaan Diri Sendiri Itu...

February 19, 2015

"Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil"
Waktu saya kecil saya selalu mengidolakan sang mama. Mama itu cantik. Wanita tercantik di dunia itu mama. Makanya saya kesal banget kalau bercermin. Kalau ngaca, jadinya mirip papa. Papa nggak banget deh pokoknya. Enggak suka. Kesel banget pokoknya. Mama saya asli Sunda dan menurut salah satu partner diskusi saya di dorm, sebut saja KM yang memang suka ngobrol sampai tengah malam dan maybe sedikit rasis untuk beberapa hal, pernah berkata, "Cewek cantik di Indonesia itu cuma dua, Manado dan Sunda."

Di satu pihak saya merasa bangga, karena saya setengah Sunda. Tapi sebagian lagi merasa terhina, karena sebagian dari saya bukanlah Sunda. Papa saya sendiri adalah suku Kei. Leluhur orang Kei sendiri munculnya berasal dari Bal (Sekarang Bali), daerah kekuasaan Majapahit. Pas Majapahit runtuh, orang-orangnya pada mencari tempat baru untuk berkuasa barangkali. Jadi mereka berlayar, dan sampailah mereka ke pulau kosong yang mereka namai Kei. Beranak cuculah dan yah teruskan sendiri. 

Ps. Lucunya ada pelabuhan yang dinamai Bal Sorbay (Bali-Surabaya). Surabaya dulu sebutannya Sorbay toh... ahh sekip intermezonya.

Pokoknya saya mau menyalahkan media karena konsep cantiknya (manusia banget ya, nyalahin semua hal di luar dirinya sendiri). Apalagi media Indonesia yang lebih-lebih mengagungkan tampilan wanita seperti noni-noni Belanda. Lama dijajah juga sih, jadi setelah merdeka seleranya tetap noni Belanda. Bahkan papa sendiri masih jadi korban penjajahan. Tim sepakbola saat piala dunia milihnya juga Belanda. Lagu-lagunya kadang Que Sera-Sera... Okay, wanita cantik menurut versi Indonesia adalah rambut panjang, kulit putih susu, langsing. Contoh-contohnya lihat saja semua bintang iklan di TV.

Balik ke mama. Mama dulu sering ke salon buat ngobrol-ngobrol. Potong rambut dan yah perawatan. Saya ingat tante salonnya namanya tante Nora. Saya ingat tiap kali ke salon bareng mama cuma ngeliatin mama perawatan (mungkin creambath, karena zaman dulu fungsi salon tidak secetar sekarang) dan mendengarkan mereka bergosip tentang peristiwa rumah tangga masing-masing ibu-ibu dalam salon sampai resep kue nastar andalan. 

Malah tiap giliran rambut sudah agak panjang, nyokap nanya,
" Kakak mau potong rambut?"
"Iya, MAU!" (Saya senang banget ke salon dari dulu, tidak tahu kenapa).
"Yasudah, nanti ke salon tante Nora dan bilang ke tantenya mau potong kayak Demi Moore."
Lalu yoan yang duduk di kelas 3 SD pun berlari girang menuju salon tante Nora dengan baju Giordano warna maroon milik papanya dengan cepat. Sumpah, saya memang kayak anak laki banget dari dulu kelakuannya. (Entalah, hampir semua anak perempuan pertama di keluarga Indonesia sepertinya tomboy... mungkin karena ekspektasi orang tua untuk mendapatkan anak laki-laki kali ya... entahlah).

Pasti sedihlah, karena citra wanita cantik di benak saya adalah yang rambutnya panjang. Pas di potong pendek banget sampai ke Pixie Cut Demi Moore yang lagi tren waktu itu, membuat saya marah-marah di rumah sama mama, karena enggak berani marah-marah sama tante Nora.

Setelah kelas 6 SD, saya pun memberanikan meminta mama untuk mencoba meluruskan rambut. Voila! Mama izininin dan papa? Papa agak cerewet buat masalah ini jadinya saya cuma digoda-godain saja. Tidak marah, cuma di godain mulu sama papa. Tapi sumpah becandaan papa itu bikin kesel. Pernah dibuat kesel sama bokap masing-masing? Nah, seperti itu rasanya. Mungkin sebenarnya hanya hal kecil, tapi remaja puber kan apa saja ngeselin kan?

Setelah kelas 6 SD, rambut saya lurus terus. Tiap 6 bulan pasti smoothing. Sampai kak Ricka hadir. Kak Ricka yang rambutnya lurus justru ingin punya rambut keriting. Saya melihat dia jadi benar-benar cantik waktu keriting. Maka ketika SMA saya juga ikut-ikutan kak Ricka untuk ke salon and get my perm!

Saya suka rambut keriting saat SMA tapi bukan keriting asli. Keriting permanen yang pake obat-obatan. Alhasil rambut saya rontok, rusak. Super damage banget. Apalagi setelah kuliah saya minta izin ke tante Selvi buat mewarnai rambut jadi merah mahogany pada semester 2. Mewarnai rambut akhirnya jadi candu sampai semester 5 kemarin.

Setelah sadar banyak banget kerusakan pada rambut, akhirnya saya memutuskan untuk memotong rambut, tapi kemudian karena alasan ingin praktis. Percayalah, rambut keriting buatan atau perm, susah bgt maintenance-nya... kalo mau high maintenance, harus meraih kocek dalam-dalam buat tiap minggu ke salon. Akhirnya pada Desember 2013, saya kemudian meluruskan rambut lagi. Karena rambut lurus adalah rambut yang gampang banget diapa-apain. Tidak ribet dan praktis.

Kembali lagi lurus dan rusak lagi. Apalagi tiap hari mesti rajin 15 menitan buat nyatok dan styling. Kalau telat ngampus, well cepolan mode on. So yep. Kalau melihat kaum hawa pake cepolan, itu berarti lagi bad hair day dan tidak punya waktu banyak buat dandan di pagi hari. Nah, begitu aja siklus hair damage saya. Puter-puter kayak lingkaran setan. 


Berangkat dari Paris
Tahu kan saya adalah wanita mainstream pencinta Perancis. Jadi saya suka banget beauty tips dari Perancis, diet wanita-wanitanya dan lain-lain. Intinya most of French woman is lazy and don't want to try too hard for dieting or styling their hair. They want it to be natural. Natural is perfect. The less is more. And I'm trying to live by that rule. Pas baca postingan ini, mungkin tahu betapa saya memang sudah tidak sisiran lagi. Hahaha. Yep, because I want to stop myself because of trying too hard.

Pas udah sekitar dua bulanan, saya mikir. Kalau mau natural, kenapa enggak sekalian semuanya sekalian. Dan itu semua menjadi kenyataan pas curling iron saya rusak pas Desember 2014 lalu ketika akan pergi ke gereja. And then, I'm like that's it... I should consider to have it cut.

Untuk melihat perkembangan Hairvolution saya, bisa ke postingan ini.

Foto terakhir di Desember 2014 saat masih berambut panjang.


No heat. No heat. No heat. 
Seperti teman-teman yang mungkin masih struggle memantapkan hati memakai jilbab atau tidak. Apakah setelah ini saya akan cantik? Gimana kalau enggak? Duhh takut! Kalau enggak bisa selfie-selfie cantik di instagram.

Tahap awal, gue cuma memantapkan hati buat tidak membeli curling iron yang baru dan tidak memakai semua peralatan styling. hair dryer, catokan, etc... Jujur, saya merasa kurang okay, karena atas rambut mengembang dan bawahnya lurus. Frizzy hair all the way. Akhirnya ikatan rambut ekor kuda menjadi andalan. Mungkin bisa dilihat beberapa dokumentasi penampakan saya pada acara ulang tahun DKBM di instagram. (Maaf, instagram dikunci, hanya untuk teman-teman dekat saja).

Karena saya merasa masih setengah-setengah. Pada akhirnya saya putuskan. NOW OR NEVER. FIGHT YOUR FEAR. And then BOOOYAHHH... I cut my hair. And then I went to salon and have it cut professionally oleh masmbak banci. masmbak memang andalan deh. Masmbak Salon know the best way to please ladies...


The Result
I love it. I love myself even more. serius deh, kalau memang papa aslinya keriting, (soalnya papa potongan rambutnya selalu kayak TNI, jadi nggak tau dia keriting atau tidak) dan mama rambutnya gelombang, saya bangga dengan keduanya... Soalnya my curls are amazing. Saya bahkan masuk sampai tahap-tahap narsis annoying.


Foto ala-ala bersama David Mario, S.I.Kom

Konsep Penerimaan Diri
Setelah bercerita tentang bagaimana saya menerima keadaan rambut yang alami dan justru bangga dengan hal itu (cenderung narsis juga ^^). Saya juga ingin mencoba menganalogikannya dengan bentuk penerimaan diri yang lain.Setelah kuliah di Tangerang, Gading Serpong lebih tepatnya, saya berkenalan dengan banyak teman-teman baru dari berbagai suku dan budaya dan mesti banget kadang mereka bilang...

Skenario 1
"Tapi gue ini Cina yo, ga mungkinlah bisa.. bla-bla-bla"

Skenario 2
"Lu Batak ya?"
"Iya. Kok tau?"
"Dari marganya."
"Iya gue Batak, tapi udah lama tinggal di bla-bla-bla..."

Skenario 3
"Lah, lo ke pulau GHJ ? Gila ngapain bagus-bagus gambarnya gue liat di ig!"
"Iya, natalan sama keluarga di sana."
"Lah, kampung lo di pulau GHJ?"
"Iya, tapi kita lama tinggal di JKLMN..."

Skenario 4
"Wah, lu campuran ya?"
"Iya."
"Apa sama apa?"
"ABC dan..... qwerty."

Entahlah rasanya seperti kalian memberikan impresi malu mengakui asal kalian. Skenario 4 itu pengalaman pribadi sih waktu masih SMP. Tapi pas SMA setelah diajarin sama para orang tua dan sering dicekokin sejarah, saya bangga-bangga saja jadi Sunda-Kei. Malah pernah, saya kemudian pamer buku silsilah keluarga saya pada teman-teman. Nama leluhur saya aneh-aneh deh (maklum, nama-nama zaman dulu belum ada pengaruh keagamaannya). I mean my last name (fam) is kinda cool... I love it. 

Yeah, you have to learn about your culture first and then next thing you know, you'll be fall in love with that. peribahasa jadul memang benar, "tak kenal maka tak sayang." Gih, kenalan sono!...

I personally appreciate some of friends who talked a lot about their homeland, village, etc. Ada satu teman saya, sebut saja JK yang promosi kampungnya kalau saya bilang mau liburan keliling Indonesia.

"Yo, di tempat gue itu lo bisa..........(insert something fun here)."
"hah? Iya?"
"Iya, kita tuh di sana kalau mau (insert sth fun here), mesti (insert sth even more fun)."
"Wah asik bgt."

Atau yang suka ngetawain beberapa tradisi yang agak lucu sambil bangga terhadap hal itu seperti FI. Dan yang suka menceritakan sejarah-sejarah pertikaian di daerahnya sambil elus-elus dada seperti WA.

Ingat loh teman, sebelum berharap dicintai orang lain, mesti menerima diri sendiri apa adanya. Masa Anda saja belum menerima diri sendiri, tapi berharap orang lain menerima Anda. Kan kurang adil. Don't try to find someone else to love yourself before you fall in love with yourself. Terima diri Anda sendiri (acceptance) , be your best self... and then love yourself first. Maybe tahun depan sudah tidak menjomblo. Amin lah ya.

Minder-minder coba dihilangin. Saya juga sih, masih ada beberapa hal yang ingin diperjuangin biar makin cinta sama diri sendiri, contohnya berat badan ideal... hahaha. 

Mari kita semua belajar menerima diri kita apa adanya. rambut, kulit, berat badan, tinggi badan, suku, bangsa, bahasa, negara, keadaan ekonomi juga jangan lupa. Untuk keadaan ekonomi, ingat jangan belanja dan menginginkan sesuatu yang tidak sesuai kocek masing-masing.  Jangan boros-boros. Kita mayoritas masih mahasiswa saat ini. Make up juga tuh, ga usah tebel-tebel seperti pengantin di acara nikahan.

Coba bayangin bonusnya kalau kemudian kalian yang kebetulan single juga akhirnya punya kesempatan PDKT sama calon partner diskusi seumur hidup. Ingat, PDKT itu dasarnya ketertarikan. Kalo salah satu pihak tidak tertarik, tentu saja PDKT tidak mulus. Kalau nanti ada kesempatan ber-PDKT ria, tentu saja berarti dia tertarik dengan Anda sebagaimana tampilan dan pola pikir Anda saat itu. Berpura-pura atau membohongi diri sendiri jatuhnya seperti memakai topeng. Topeng kalau dipakai terus dengan alasan menyembunyikan wajah pasti suatu saat gerah juga kan? 

Penerimaan diri sendiri bukan berarti saya juga berkata," just be yourself." 
NO... Don't just be your damn self... be your better self! But first you need to accept who you are, love it and the upgrade it!


Selfie : no make up, no hair styling, no filter
Yoan Letsoin

You Might Also Like

1 comments