Tradisi Penutup Kepala dan Apapun Sebenarnya yang Membuat Anda Nyaman Saja

March 11, 2015

Siapa sih orang pertama yang punya ide bikin tradisi menutup kepala? Saya ingin tahu alasan dan tujuan dibaliknya. Saya berpikir ada dua jenis orang yang ingin sekali mewariskan tradisi. Orang pertama yang mengajarkan tradisi yang beredar sampai saat ini adalah orang yang  berniat tulus, dan tujuan menyebarkan tradisi tersebut adalah untuk menciptakan kedamaian di hati setiap orang (dan mungkin di dunia).

Ada juga yang mungkin menyebarkan sebuah tradisi untuk  mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan apa lagi sih selain tiga hal di dunia ini? Harta, Tahta,Wanita. 3 T. Sebenarnya kata wanita harusnya diganti dengan seks. Yep, SEKS. Salah satu episode di Sex and The City season satu yang membahas tentang itu dalam percakapan para ladies. Saya ingat ketika karakter Miranda Hobbes dan Samantha Jones berdebat di depan Carrie tentang seorang arsitek dari Perancis yang super charming. Another Mr. Big, but not as big as the real Mr. Big (Preston).

FEMALE POWER EPISODE
Carrie :
We had such a fantastic connection. Then he leaves me money.
I don't understand.What exactly about me screams "whore"?
 
Miranda :
Besides the $1,000 on the end table?
Samatha :
I just can't believe
that you had dinner at Balzac. Wait a minute. I thought I ordered two
eggs benedict and one spinach omelette.

Miranda:
It's all right. I'll take the omelette.
Carrie :
This isn't right. We're gonna pay for all this ourselves, all right?
Samantha :
He said order anything.
Miranda :
The room service is one thing, but the money... uh-uh.
Samantha :
What are you getting so uptight about? Money is power. Sex is power. Therefore, getting money for sex is simply an exchange of power.
Miranda :
Don't listen to the dime store Camille Paglia.
Carrie :
I don't know whether to take it as an incredible compliment...or as an incredible insult.
Samantha :
Just take it, period.
Carrie :
I wouldn't know how to return it anyway because he didn't leave me his number.
Miranda :
He paid in full. What more is there to talk about? Who is this Amalita Amalfi character,
anyway?
I'm concerned that you've been drafted into a ring of high-class hookers.
Carrie :
She isn't a hooker. She's...She's like an international party girl.
Miranda :
She's a hooker with a passport. Do you ever have any conversations about money?
Carrie :
I did allude to the fact that I was a bit cash poor these days.
Miranda:
So maybe it's supposed to be a loan?
Carrie :
I don't remember filling out an application.
Samantha :
Sweetheart, men give, women receive. It's biological destiny. 
Miranda :
Do you really want to say that? That's the argument men have used
since the dawn of time to exploit women.
 
Carrie :
I'm just gonna write the whole thing off as a bad date with a cash bonus.

Ps. Some of the guys think that watching SATC is a bit shallow but, you know this serial serve us with bunch of ideas and argument about woman, labels and relationship problems. So, if you DO think about how shallow this serial, that's okay. Say what you want... But deep down inside we know that we're smarter than you think. hahaha... okay, intermezonya cukup panjang.


Kembali kepada topik awal tentang isu tradisi. Kali ini saya ingin menuliskan tentang tradisi menutup kepala. (Ya elah yo, panjang banget intermezonya dari paragraf satu sampe sekarang...). Setelah membaca sekilas tentang beberapa artikel dalam google, tradisi menutup kepala adalah tradisi sebelum adanya agama-agama samawi.

Terus kenapa ya tradisi itu berkembang jadi salah satu aturan pada ajaran agama? Logika saya begitu simpel. Simpelnya aturan menutup kepala bagi wanita itu adalah pesan nenek moyang dari wilayah-wilayah kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Kita sebagai anak baik-baik, mesti dengar-dengar orang tua kan? Surga ada di telapak kaki ibu loh... Mau ente masuk neraka? (Kita hidup dalam aturan-aturan yang menekankan pada 'ketakutan' ya... sungguh hebat orang zaman dulu, mereka pintar sekali bermain dengan psikologis kita...pengaruhnya begitu kuat hingga saat ini).

Memaknai Penutup Kepala
Di Indonesia ini penutup kepala memang sedang menjadi trend. Bahkan kata 'kerudung' sudah jarang kita kenal. Anak-anak remaja kekinian menggunakan term baru untuk penutup kepala, yep... hijb (hijab) berkaca dari istilah penutup kepala di negara-negara Arab-Afrika (Mesir, Sudan, dan Yaman). Well, in my opinion that's okay... Hanya masalah bahasa, enggak usah berantem. Toh, penutup kepala sendiri punya banyak istilah sebenarnya, tergantung dimana Anda berada. Ah coba google sendiri deh kalau penasaran.

Sayangnya meski sedang tren, kadang suka sedih juga sih. Alasan sedih karena mungkin penutup kepala masih menuai perdebatan sehubungan dengan kegunaanya dan etika atau moralitas bagi wanita. Misalnya penutup kepala itu 'eksklusif'. Yep... sekali lagi...EKSKLUSIF. Eksklusif untuk MENERIMA dan TIDAK MENERIMA. Pertama, Menerima - wanita Muslimah di Aceh WAJIB menggunakan penutup kepala. Kedua, Tidak menerima - ada juga beberapa negara YANG TIDAK RAMAH dengan keberadaan wanita dan penutup kepalanya.

Tiba-tiba saya teringat dengan cerita seorang teman. Contoh lainnya membuat penutup kepala ini sendiri menjadi sangat eksklusif dan diartikan sebagai sesuatu yang hanya dikenakan oleh saudara kita kaum Muslimah atau Islam tradisional yang kuno sampai-sampai ada sebuah grup perusahaan keluarga yang cukup besar yang terletak di daerah Karawaci yang menolak seseorang mahasiswa untuk magang di sana. Hanya karena mungkin teman saya itu Muslim dan mengenakan penutup kepala.

Wake up people! Menggunakan penutup kepala bukan bentuk dari radikalisme agama. Menggunakan penutup kepala tidak ada sangkut pautnya dengan aksi terorisme. Ingat bahwa penutup kepala sendiri sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi, bahkan sebelum agama-agama seperti Islam, Yahudi, Katolik, Kristen, Buddha muncul. Stop memanipulasi dan memberi citra buruk pada sesuatu yang pada awalnya dibuat dan dimaknai sebagai sesuatu yang positif only for the sake of the competition to rule the world. (Saya jadi ingat simbol Swastika yang sangat dihormati dalam ajaran agama Hindu, Buddha dan Jain kemudian berubah menjadi buruk maknanya karena digunakan oleh kaum Nazi di Jerman dan Hitler.)

Manusia dan interpretasinya, pemberian maknanya terhadap sesuatu simbol yang jadinya kontras terhadap makna awal yang telah diberikan itu kadang-kadang ngeselin yaa... hahaha. Lalu kita berantem gara-gara salah memaknai sesuatu.

Penutup kepala dan jubah berjuntai-juntai, atau sekarang biasa para wanita senang sekali dengan maxi dress atau maxi skirt sebenarnya adalah sebuah pakaian kebesaran bagi sebagian besar agama-agama besar di dunia. Pakaian seperti toga wisuda itu bahkan tidak hanya dipakai oleh para wanita, tapi juga dipakai oleh guru-guru (pendeta) agama. Sehingga penutup kepala telah menjadi tradisi dan identitas hampir semua agama.

Penggunaan Hijab Syar'i, yang menjadi perintah dalam agama Muslim bagi kaum wanita.

Gambar atau lukisan Perawan Maria yang menggunakan penutup kepala. Sosok wanita yang sangat dihormati dalam agama Katolik dan Kristen.

Penutup kepala bagi wanita Jewish Ortodox. Perempuan yang sudah menikah, harus menutup rambutnya (khususnya bagian ubun-ubun dan akar rambut) baik menggunakan scarf, topi, kain, ataupun wig.

Penggunaan pakaian Saree (sari) di India yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu.

Lukisan Dewi Kwan Im atau Avalokitesvara Bodhisattva yang merupakan seorang  Buddha dengan 20 ajaran welas asih

Dua Budaya yang Kontras
Menutup kepala atau tidak kini sudah menjadi pilihan masing-masing pribadi. Begitu juga dengan berpakaian terbuka atau tertutup. Setelah wacana mengenai hak asasi manusia, hak emansipasi wanita, dan lain-lain seiring munculnya paham liberalisme dan demokrasi, umat manusia melahirkan tradisi baru. Wanita kini juga bebas mengenakan apapun yang ia mau. 

Tapi meskipun saat ini kita sudah bebas, cobalah berpikir postif dan mulai memilih apa yang menurut kita baik untuk dipilih. Jangan sampai kita memilih untuk mengadopsi budaya baru dan meninggalkan budaya lama hanya karena trend dan anggapan bahwa semua tradisi lama itu kolot. Analisislah kedua belah pilihan. Apapun pilihannya, jangan pernah lagi menganggap kaum pria sebagai sumber masalah. Memang sih hidup di dunia dengan budaya patriaki yang sudah menjamur itu tidak enak. Mau setara? anggap saja Anda sudah setara. Jangan banyak komplain. Menjadi setara bukan berarti harus jadi maskulin seperti para pria, tapi terimalah sifat-sifat feminim Anda sebagai wanita.

Oh ya, kadang menurut saya menjalankan tradisi juga cukup berlebihan. Mungkin untuk ini saya jadinya double standart. Saya masih miris kalau melihat beberapa wanita di tradisi Yahudi contohnya. Khusus untuk wanita yang sudah menikah ada aturan kalau tidak mau menggunakan penutup kepala, mereka harus  mencukur botak rambutnya. I mean, that just cruel...Keinget scene New York I love You yang ada Natalie Portman yang beneran botak. Yesss BOTAK. (Maybe itu syutingnya pas barengan V for Vendetta yaaa.. Natalie kan lagi botak-botak banget pas itu).

Begini deh. Saya miris melihat wanita yang botak, tetapi kalau yang botak saja tidak masalah dan malah damai-damai aja dalam kebotakannya, ya sudah. Saya juga bahagia kalau dianya nyaman-nyaman saja. Intinya saya ingin semua wanita nyaman dengan opsi-opsinya ketika memilih melakukan sesuatu. Pakai penutup kepala, pakai bikini, enggak pakai, dibotakin, mau ikut off road, mau di rumah aja jadi ibu rumah tangga melayani suami dan anak, mau keliling dunia, tinggal di hutan. TERSERAH! Anda manusia yang bebas juga.

Ingat what goes around comes around. Berpakaian terbuka mungkin akan membuat Anda menjadi pusat perhatian para kaum pria di wilayah-wilayah tertentu. Kalau Anda suka dan memang masih butuh perhatian untuk mencintai diri Anda sendiri, then go ahead do that!. Kalau memang mau pakai pakaian serba tertutup harus juga siap dengan konsekuensi 'dihakimi' sebagai seseorang yang 'religius' di Indonesia, jangan ngeluh pakaian dan penutup kepalanya bikin panas, keringetan dan ribet. 

Semua tanggung jawab dan konsekuensi akhirnya ada pada Anda sendiri. Kalau Anda percaya akan sesuatu yang besar seperti Tuhan pun, jadinya pilihan-pilihan yang Anda pilih harus Anda pertanggungjawabkan di depan-Nya.



Kembali teringat tentang salah satu scene di SATC the Movie 2, dimana tari perut di Abu Dhabi menjadi percakapan para ladies. I remember one of them said something like, "Those clever bastards!"

Yet, whatever we do, we still blame it on you guys. So sorry then.
Kerinduan Memakai Penutup Kepala
Akhir-akhir ini saya ingin sekali mencoba memakai mantila saat misa, tapi saya serem juga kalau semua mata tertuju ke saya karena saya kelihatan berlebihan menggunakan mantila. Entahlah, saya merasa nyaman kalau menggunakan mantila. Sepertinya, jika dulu saya pernah terlahirkan di dunia, saya merasa pernah menjadi wanita yang selalu menutupi kepala. Mungkin saya pernah hidup sebagai wanita yang tinggal di Mesopotamia atau wilayah Persia... hahaha.

Well, copas dari google, mantila adalah sebutan untuk kerudung misa di Katolik.  Tradisi pemakaian mantilla ini sudah ada sejak jaman dahulu dan pernah diwajibkan  oleh Gereja dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) tahun 1262. Namun setelah KHK tersebut diperbaharui pada 1917, maka pemakaian mantilla menjadi tidak wajib. Namun demikian, masih banyak perempuan Amerika Latin & Korea yang mengenakan mantilla ketika ke Gereja.


Ilustrasi misa dengan mantila di gereja Katolik
Penutup kepala secara umum bukan hanya bagian dari pergerakan peradaban  tapi sesungguhnya sudah menjadi lambang dari kebaikan dan ketaatan kepada sebuah keyakinan. Ingat bahwa agama-agama besar bahkan menghormatinya sebagai simbol pakaian yang agung, meski tidak semua menetapkannya sebagai kewajiban atau perintah.

Well, menggunakan atau tidak menggunakan bukanlah hal yang harus menjadi masalah. Tidak perlu diperdebatkan apa fungsinya. Ketika kamu damai menggunakannya, maka pakailah. Jika tidak, tidak perlu dipaksakan. Karena masalah cantik atau tidak adalah bentuk dari penerimaan diri sendiri. Kalau kita (para wanita) memang sudah merasa cantik, mau diapain juga pasti rasanya tetap cantik.

Oh ya, terakhir saya sempat takjub juga melihat tradisi penutup kepala yang penggunaannya yang berbeda-beda di tiap ajaran. Lah, kenapa ya? 

Lalu saya tersenyum dan voila! I think I know the answer why...

Ladies, kamu pikir fashion itu hanya berkembang saat ini? Nope, fashion itu juga sudah ada sejak dulu. Well, pake penutup kepala juga mesti sesuai style kita kan... hahaha. Sekarang aja pakai hijab banyak stylenya. Apalagi ini tradisi yang cukup kuno, bahkan ribuan tahun sebelum Masehi. Dan ini baru 2015 tahun sesudah Masehi... see, lama banget kan?

Well, Intinya be wise okay ladies! If you want to dress up, it's for your own sake... not for the boys. (Well, the boys come later... like a bonus or gift or something). 

"Yoan, gue diet bukan karena cowok. Gue diet buat bisa pake baju-baju yang ada di etalase itu... bagus."
"Good then, exactly what I'm thinking right now... I want those dress to fit on me too."
- Sebuah percakapan mengenai diet dan baju bagus yang dilihat di etalase mall.

Girls do not dress for boys. They dress for themselves and of course, each other. If girls dressed for boys they'd just walk around naked at all times -Betsy Johnson

I just love these ladies :)

Yoan Letsoin

You Might Also Like

0 comments