Bukan saya anti mainstream, saya hanya tidak "Go With The Flow"

June 16, 2015

"Ketika saya seumur kamu, saya juga masih seperti itu. Masih sering menyimak kata-kata motivasi Mario Teguh. Sekarang sih,yah... realistis aja."

"Go with the flow..."
-Seorang teman.

Entahlah, saya rasanya punya anxiety sendiri mengenai celetukan ini. Mau merasa tersinggung? Enggak juga sih. Saya jarang juga kok nonton Mario Teguh dengan Golden Way-nya di Metro. Mau menyetujui pendapatnya? Rasanya tidak bisa juga. Karena saya merasa Mario Teguh dengan kata-kata motivasinya tidaklah salah. At least, menurut saya dia berbicara juga sesuai logika dan justru realistis sekali. At least juga, saya belum pernah mendengar Mario Teguh mengada-ngada.

Tetapi yang saya coba tangkap dari celetukan itu adalah bukan Mario Teguh sebagai esensi utama pesan, akan tetapi sikap saya yang terlihat idealistis. Teman ini mungkin menangkap impresi yang saya berikan kepada dia adalah sebagai seseorang yang selalu seperti kalimat-kalimat motivasi positif tumblr ataupun seseorang yang mengutip hal-hal positif layaknya Mario Teguh.

Saya tidak merasa seperti itu, tapi mungkin inilah yang si teman tangkap tentang saya.
(Gosh, saya bahkan tidak pernah mengutip Mario Teguh dimanapun...)

Tapi meskipun si teman mungkin sekarang sudah lupa pernah berkata seperti itu, justru saya masih memendam pernyataan pendapat dia yang mungkin menurutnya 'sepele' ini. Kenapa saya mesti harus memikirkan hal ini dan betapa pernyataan ini begitu mengganggu pikiran saya. Apakah sebenarnya pernyataan ini mengganggu eksistensi saya atau kemampuan kognitif saya?

Apakah saya salah untuk selalu belajar menjadi sosok idealis? (Idealis bukan perfeksionis loh ya...).
Apakah saya terlihat seperti mengacuhkan realita yang ada, sampai si teman memandang bahwa saya tidak realitistis?
Apakah dia melihat bahwa saya begitu polos dengan semua pikiran dan mimpi saya?
Apakah memiliki mimpi dan cara berpikiryang polos begitu mengganggu eksistensi dirinya dan cara berpikirnya yang mungkin sebaliknya?

Kebiasaan buruk wanita salah satunya memang over thinking dan over analyze mengenai sebuah hal. Entahlah apa yang saya lakukan dengan otak ini, tapi saya akan mencoba menjabarkan pemikiran saya hingga tuntas agar saya tidak perlu lagi 'bertanya-tanya' dan 'berpikir keras' mengenai pernyataan ini.

Mari kita mulai.

Ketika saya ingin perubahan dan sedikit bercerita mengenai hal-hal yang harus dirubah dan alasan saya ingin merubah hal tersebut serta kecemasan saya lainnya jika tidak terjadi perubahan, dia akan berkata,"Go with the flow..."

Saya tidak pernah suka kata go with the flow. Bagi saya only dead fish go with the flow. Simple, kalo ikan mati, yahh pastinya ngikutin arus. Kalo hidup yah mesti berupaya melakukan sesuatu dan berjuang.

Tampar saya deh kalau kamu pikir saya salah. Beneran BOLEH BANGET! Tapi habis itu kamu mesti jelasin salah saya berpikir dimana. Kalau pernyataan kamu didukung dengan teori psikologi apapun itu, saya akan bersedia sportif dan mengakui kesalahan saya. Bagaimanapun saya sebagai didikan kaum Jesuit harus selalu dituntut untuk berlapang dada dan berjiwa kesatria mengenai segala hal.

Jika maksud kamu adalah untuk menyuruh saya tenang. Mungkin itu dapat diterima. Tapi tidak dengan kalimat GO WITH THE FLOW. Mungkin kamu bisa menggunakan kalimat SELOW atau WOLES bahkan Tenang, Nikmatin aja situasinya.

Saya bisa menerima "selow", "tenang", "woles", "nikmatin aja prosesnya". Karena memang itulah yang harus dilakukan. Realistis dan tidak mengada-ada. Mungkin karena saya juga adalah orang-orang yang selalu mendengungkan kata-kata itu ditelinga kalian.

Sejak kecil saya diajarkan oleh para guru untuk selalu menghargai 'proses'. Bahkan, coba saja dulu ingat-ingat lagi ke belakang. Jika PR Matematika tidak ada cara pengerjaannya, meskipun jawabannya benar maka tetap akan disalahkan. Saya juga lebih menikmati proses menghitung dengan rumus sampai menemukan jawaban yang paling tepat di pilihan berganda. Rasanya 'worth it'!

Mungkin cita-cita saya terlalu mengada-ngada. Apasih emangnya cita-cita saya? Mau tau?

Kebahagiaan untuk setiap orang. Udah itu aja. Cukup.

Kamu sepertinya penuh dengan hal-hal negatif.
Kamu nggak mau semua orang bisa bahagia?
Terdengar bodoh dan sangat tidak realistis?
Apa mungkin saya begitu mengada-ngada?

Sepertinya saya butuh teman baru.

Yoan Letsoin



You Might Also Like

0 comments