Love wins, doesn't it?

July 03, 2015

Baru-baru ini same-sex marriage sudah diakui di negara yang memiliki citra adidaya di dunia. Mungkin yang kenal saya, tahu dimana pandangan saya tentang penyuka sesama jenis. Singkatnya, saya percaya di dunia ini kita memang harus saling mencintai sesama kita, laki-laki, perempuan. Cinta juga banyak jenisnya dan menurut saya, kita semua bebas mencintai siapa saja. SIAPA SAJA. Asal dalam cinta itu kita bahagia.

Mungkin karena saya tumbuh di wilayah timur dan masih sangat patuh dengan perintah keyakinan saya, saya cuma mau bilang, saya tidak membenci kaum LGBT, karena kita semua adalah anak-anak Tuhan. Kita semua sama, dan kita memang harus mengasihi sesama kita. NO HATERS ALLOWED! ^^

Di sini saya tidak akan bahas masalah 'ke-gay-an' seseorang dan 'ke-biseksual-an' seseorang, tapi lebih kepada mencoba membongkar isi kepala saya untuk menentukan dimana saya berdiri diantara dua kubu.

Hashtag #LoveWins 
Benarkah 'cinta' akhirnya menang? Menang dari apa? Apakah memang sebelumnya ada perang? Siapakah kubu yang dilawan oleh 'cinta' itu? 

Okay, mungkin kita harus mulai dari dua kata, yaitu  pernikahan dan lembaga pemerintah

Sejak dulu bahkan tidak sedikit orang yang sangat anti menggabungkan pernikahan dan lembaga pemerintah. Pihak ini adalah orang-orang yang berpendapat bahwa menikah adalah urusan mereka pribadi.

" Menikah adalah urusan saya dan partner saya, pemerintah nggak usah ikut campur dengan masalah rumah tangga saya."

Seringkali orang-orang seperti ini melakukan 'persekutuan' dan membangun rumah tangga mereka sendiri tanpa pusing mencatat data diri mereka di catatan sipil atau KUA. Banyak istilahnya nikah siri, nikah bawah tangan, nikah pribadi, well, intinya menikah tanpa harus repot membuat surat nikah, atau nembak surat nikah aja alias surat nikah aspal (asli tapi palsu). Singkatnya, pernikahan mereka tidak tercatat di kantor pemerintahan manapun.

Pernikahan seperti ini masih banyak terjadi di desa-desa kecil yang ajaran agama menjadi fondasi utama hidup bermasyarakat. 

Menurut saya, cara ini tidak salah, tapi kurang bijaksana.


Pernikahan yang 'normal' di Indonesia adalah pernikahan yang sesuai dengan undang-undang :

"Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa."

Anda hidup dimana sistem sudah terbentuk, dan permainan kekuasaan juga sudah ada di dalamnya. Jika Anda tidak ingin merubah sistem tersebut dan sebenarnya tidak begitu terganggu ataupun setuju terhadap sistem tersebut, cara melaluinya adalah bermainlah dengan baik dalam sistem itu. 

Jika belum paham, investasikan sedikit waktu Anda untuk mempelajari sistem, lalu bertidak lebih cerdas.

Mayoritas masyarakat yang telah teredukasi memilih untuk melakukan tata cara pernikahan mereka dengan "bijaksana". Dimana mereka tidak hanya mengikat janji pernikahan berdasarkan norma agama, akan tetapi juga norma hukum. 

Mengapa bijaksana? Karena mereka tidak perlu lagi repot mengurusi surat pernikahan saat ingin mendaftarkan anak mereka untuk masuk sekolah dasar. Sekadar informasi, jika pernikahan Anda tidak tercatat, anak yang terlahir dalam pernikahan tersebut "memiliki peluang yang sangat besar" tidak akan memiliki akta kelahiran. Dan dalam akta kelahiran dikemudian hari, tidak akan tercantumkan nama ayah.

Pernah ingat beberapa kasus "Istri kedua" atau "wanita lain" seorang pria yang ngamuk-ngamuk di depan wartawan infotaiment sambil menangis bombay meminta pria tersebut menikahi dia di KUA atau catatan sipil agar punya dokumen resmi untuk membuat akta lahir anak karena anak akan masuk sekolah.

Teman-teman, dalam kasus ini, catatan atau dokumen resmi tersebut akan sangat berkuasa untuk meninju sang pria dengan tanggung jawabnya.

Nama siapapun yang tercatat dalam sebuah akta kelahiran seorang anak (idealnya nama ibu dan bapak), sudah resmi diakui oleh negara bahwa kedua orang tua tersebut 'harus' bertanggung jawab. Ingat-ingat lagi, konsep negara dalam pelajaran PPKN, NEGARA SIFATNYA MEMAKSA.


Jadi, kalau ketemu kasus anak yang terlantar, pemerintah bisa mencari siapa yang bertanggung jawab dan mesti diadili

Jadi, kalau ada pembagian harta warisan, tidak juga akan repot.

Kebayang sekarang kalau kita hidup di sebuah sistem yang sudah disepakati, tapi kita malah kurang bijaksana memainkan peran di dalamnya.

Yah, yang nikahnya juga mau ngikutin hawa nafsu belaka atau kurang dilandasi sikap saling percaya, bisa banget juga membuat "Premarital agreements" atau "prenuptial agreements atau "prenups". Dengan kepentingan melindungi aset kekayaan dan properti kalian. (Btw, saya tidak tahu apakah Indonesia juga memiliki hal seperti ini.)

Intinya pernikahan tetap dijalani oleh kedua insan tersebut dengan sesekali memberikan pemberitahuan kepada pemerintah jika ada hal-hal yang terjadi dalam pernikahan (Seperti, kelahiran, kematian, perceraian, dll).

_
Same sex marriage

Kalian tidak salah kok jika menganggap diri kalian terlahir sebagai 'gay'. Menjadi gay tidak masalah, menjadi biseks tidak masalah, menjadi 'lurus' ataupun 'normal' juga tidak masalah. 

Pernikahan adalah sebuah hal yang penting. Saya adalah orang yang menghormati esensi dari pernikahan itu sendiri. Ya, untuk pernikahan, mohon maaf, saya tidak menyetujui pernikahan sesama jenis. (Ataupun perceraian).


Tidak perlu menjadi orang yang jenius untuk mengerti bahwa cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda kan?

Saya tahu, ketika kita bertemu dengan orang yang tepat, kita akan saling mencintai. Kita bahagia. TITIK.
Tapi kita juga manusia, terkadang kita ingin hubungan tersebut 'diakui' oleh sahabat, keluarga, pemerintah, dll. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri dan mendapatkan pengakuan menjadi sesuatu hal yang sangat penting.

Pertanyaan saya, jika Anda telah menemukan orang yang tepat dan saling mencintai, apakah pengakuan dari diri partner Anda masih kurang? Apakah Anda ingin cinta Anda mesti dikonsumsi oleh pihak lain?

Mungkin ada yang lebih suka segala sesuatu disimpan berdua (private) dan ada juga yang butuh hubungannya digembar-gemborkan.

Dimanapun kebutuhan Anda, jika Anda adalah salah satu pribadi yang  menuntut pernikahan sesama jenis menjadi legal, Anda harus siap dengan konsekuensinya.

Menjadi orang tua sesama jenis
Mungkin belum banyak penelitian yang menyasar kepada aspek emosional dan prilaku anak yang diasuh oleh orang tua sesama jenis, tapi tentu patut dipertimbangkan aspek emosional dan prilaku di masa mendatang.

Jika pernikahan tersebut adalah pernikahan yang memiliki ekspektasi kehadiran anak. Kita sama-sama tahu bahwa pasangan sesama jenis tidak akan menghadirkan anak, mereka setidaknya harus mengadopsi, menggunakan fasilitas sperm bank, ataupun layanan baby mamma.

Tapi apakah keputusan itu adil bagi seorang anak? Lahir tanpa diasuh oleh ibu kandung atau ayah kandung mereka?

Perlu adanya pengertian bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berada di antara peran ayah dan ibu yang seimbang, bukan peran ayah-ayah atau peran ibu-ibu. Tidakkah kita belajar dengan perilaku anak pasangan yang telah bercerai, perilaku anak asuh single mother atau single father? 

Masalah hukum tentu sudah dapat diatasi dengan adanya pelegalan pernikahan sesama jenis, akan tetapi perlu penelitian terhadap kualitas manusia yang akan tumbuh dalam keluarga tersebut.

Saya bukan mau ngulang-ngulang kampanye mainstream yang selalu berkata, "Anak-anak adalah generasi penerus masa depan." Saya hanya ingin mengingatkan Anda semua untuk tidak egois mementingkan kebutuhan Anda akan pengakuan saja dan melupakan kewajiban Anda mendidik seorang generasi penerus masa depan yang mungkin akan hadir di keluarga Anda, mengingat peran ayah dan ibu sangat dibutuhkan.

Untuk dipikirkan :

Apakah pengakuan menjadi lebih penting ketika mencintai partner kita saja sebenarnya sudah cukup?

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda.
Setiap orang yang saling mencintai, tidak selalu akan berakhir dalam pernikahan.
Dan setiap orang yang menikah, belum tentu saling mencintai.


Agenda konspirasi :
  1. Same sex marriage dapat menutup krisis dalam department lain dalam pemerintahan.
  2. Semuanya akan kembali kepada kekuasaan dan cara mempertahankan kekuasaan yang absolut.
  3. Republik atau Demokrat sama saja.
  4. Kaum LGBT kini sudah muncul terang-terangan dan kehadirannya dapat menjadi contoh lain teori spiral of silence.
  5. Hati-hati dengan agenda Feminism, LGBT, same sex marriage, mengubah sistem secara perlahan.
  6. Hegemoni juga akan kita sadari secara perlahan.
  7. Suka Buzzfeed, 9gag.com, hollywood? Ehm... kamu akan secara tidak sadar menyetujui gerakan feminism, LGBT, dan same sex marriage. Tinggal tunggu waktunya saja, sampai kamu sudah cukup biasa terpapar.
  8. Ada alasannya menteri medkom kita yang 'terlihat bodoh' itu memblock vimeo. Ya, memblock vimeo itu sangat bodoh.
  9. Untuk mempertahankan kekuasaan di Indonesia, jika takut terpapar oleh Barat, coba refleksi diri masing-masing saja dan maksimalkan lagi literasi medianya. Anda manusia yang punya otak kan? Bisa dong otaknya dipakai buat mikir? Apapun pendapat kalian, tidak ada yang absolut salah, tidak ada yang absolut benar. Ini murni tentang kekuasaan saja.Yang salah adalah dimana kalian sebagai manusia tidak lagi memanusiakan manusia.
  10. Sebenarnya jika dunia semakin kacau, itu adalah kesempatan yang baik untuk intervensi sistem
  11. Intervensi kekuasaan
  12. Kudeta
  13. Pengurangan jumlah populasi dengan legal
  14. POWER
  15. POWER
  16. POWER
  17. Demokrasi kan?
  18. Iya
  19. Demokrasi.
  20. Kita mesti tahu apa yang kita pilih, tidak hanya iya-iya saja. Saya akan menghormati kamu, apapun pendapat kamu. 

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda.
Setiap orang yang saling mencintai, tidak selalu akan berakhir dalam pernikahan.
Dan setiap orang yang menikah, belum tentu saling mencintai.

-Me, 22, I don't know what love is anymore, these human things are complicated. I want simple thing. -


Ada cerita lucu (source : http://lardcave.net/text/the_racist_tree.html )

The Racist Tree

By Alexander Blechman
Once upon a time, there was a racist tree. Seriously, you are going to hate this tree. High on a hill overlooking the town, the racist tree grew where the grass was half clover. Children would visit during the sunlit hours and ask for apples, and the racist tree would shake its branches and drop the delicious red fruit that gleamed without being polished. The children ate many of the racist tree's apples and played games beneath the shade of its racist branches. One day the children brought Sam, a boy who had just moved to town, to play around the racist tree.
"Let Sam have an apple," asked a little girl.
"I don't think so. He's black," said the tree. This shocked the children and they spoke to the tree angrily, but it would not shake its branches to give Sam an apple, and it called him a nigger.
"I can't believe the racist tree is such a racist," said one child. The children momentarily reflected that perhaps this kind of behavior was how the racist tree got its name.
It was decided that if the tree was going to deny apples to Sam then nobody would take its apples. The children stopped visiting the racist tree.
The racist tree grew quite lonely. After many solitary weeks it saw a child flying a kite across the clover field.
"Can I offer you some apples?" asked the tree eagerly.
"Fuck off, you goddamn Nazi," said the child.
The racist tree was upset, because while it was very racist, it did not personally subscribe to Hitler's fascist ideology. The racist tree decided that it would have to give apples to black children, not because it was tolerant, but because otherwise it would face ostracism from white children.
And so, social progress was made.


-END?-

You Might Also Like

0 comments