Teruntuk Teman yang Baik tentang Hukum Newton III atau Alam Semesta atau bahkan Rahasia Tuhan yang Misterius

September 02, 2015

Untuk Cedric dan segala kecemasannya akan hidup.
Banyak keinginanku sebelum meninggalkan dunia ini. Percaya atau tidak bahwa kita merupakan sebuah energi yang hanya berubah dari bentuk ke bentuk lainnya dan akan kembali tercipta menjadi bentuk energi lainnya seperti reinkarnasi, aku selalu berpikir bahwa aku cuma sebuah energi yang berotasi di bumi ini.

Cedric tiba-tiba memulai diskusi seru tentang ekspektasi, teori chaos dan kematian. Well, kami sama-sama setuju, di dunia ini, siapapun kita, apapun yang kita lakukan tidak ada yang namanya kepastian, selain kepastian untuk mati suatu saat nanti.

Memento mori, memento vivere, hanya persoalan melihat dunia dengan banyak ketakutan atau banyak kejutan menggembirakan. Hanya pikiran kita sebenarnya yang menuntun kita. Takdir atau tidak, semua yang terjadi di dunia ini menuju pada keseimbangan. Everything happen for a reason. Apapun yang diciptakan Tuhan pasti berguna. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. 

Bahkan aku masih bertanya dalam sunyi apakah fungsi seekor kecoak diciptakan? Masih sebuah misteri. Well, mungkin suatu saat nanti akan ada penyakit super mematikan, dan obatnya adalah kecoak. Banyangin deh jika seekor kecoak yang akan menjadi lebih berharga daripada harga pesawat jet pribadi yang selalu terparkir di Halim Perdanakusuma hanya karena kita semakin terjerumus dalam sistem kapitalis yang sungguh kapitalis.

Aksi reaksi yang terjadi juga sesuai dengan hukum Newton ketiga. Everything happen for a reason. Meski dalam kekacauan, kita selalu menuju tahap keseimbangan. Alam semesta selalu mencoba mengobati dirinya sendiri.

Lapisan ozon yang terbuka semakin lebar di atas sana karena gas monoksida, freon dan lainnya tentu dapat di atasi dengan bencana alam. Bencana ini hanya pandangan negatif dari kita yang menjadi korban badai. Perlu adanya badai dan petir yang tercipta untuk menutupi lapisan ozon kembali.

Rumah penduduk mungkin bisa terbang terangkut badai, tapi lapisan ozon akan kembali tertutup dan bumi akan tetap menjadi tempat tinggal para manusia lainnya, generasi setelahnya, dan setelahnya. Everything happen for a reason.

Cedric lalu bertanya, bagaimana dengan cinta dan emosi kita? Saya lebih suka menganalogikan cinta dengan energi lainnya, lebih tepatnya seperti reaksi kimia. Anggap saya terbentuk dari  gas Hidrogen (H), dan kamu terbuat dari Clorida (Cl). Jika kita terikat bersama, kita menciptakan larutan asam klorida (HCl). 

Tidak ada akan salah sebagai HCl sebagai sebuah larutan. Jika saya dan kamu berpasangan tidak ada yang salah, selama keduanya memiliki usaha untuk mengikat satu sama lainnya. 

Lalu bayangkan lingkungan kita tinggal bersama nantinya adalah sebuah besi cor biasa, bukan baja ataupun besi stainless steel, lingkungan kita tinggal adalah sebuah besi tempa atau besi cor biasa.

Kamu bisa banyangkan betapa kita sebagai HCl dapat membuat besi itu berkarat setiap kalinya kita tinggal dan memutuskan untuk terus mengikat diri kita menjadi HCl?

Bayangkan jika kita bersama, kita dapat merusak keluarga awal kita, teman dan sahabat, rekan kerja ataupun Tuhan yang kita agung kan?

Beda jika situasinya kita bertemu di lingkungan seperti lambung manusia. Di situ kita membantu pencernaan makanan, asam yang kita ciptakan dapat membunuh kuman. Akan tetapi, jika kita begitu terikat dan begitu serius bekerja, kita juga dapat membuat manusia terluka dengan maag mereka. 

Tidak ada yang salah dengan setiap orang dan energi mereka. Reaksi yang tercipta akan mempengaruhi kita dengan lingkungan. Everything happen for a reason.

Entahlah Cedric, aku tidak begitu jago kimia, aku lebih suka fisika jadi jika analogiku kurang tepat, setidaknya kamu bisa membaca garis besar maksudku.

Kenapa kita berteman? Entahlah, kita suka membahas hal-hal yang orang pikir sepele. Suatu saat kamu akan mencoba belajar hidup dengan cara yang aku lakukan, dan aku akan belajar caramu berjalan di sudut-sudut Vienna. Everything happen for a reason.

Apa cita-cita mu saat kecil? 
Aku? Aku ingin menjadi polisi. Setidaknya begitulah orang tuaku mencoba memanipulasiku. Sekarang, aku belajar komunikasi dan itu karena aku bermimpi untuk mengenal orang lain dan diriku lebih lagi. Aku bercita-cita memanusiakan manusia. 

Cedric, apa cita-cita mu? 
Aku tidak punya satupun, aku hanya ingin 'tidur' sepanjang hidup ini. Seperti yang dilakukan orang lain, sesuai dengan dengan sistem yang memang sudah diciptakan untuk manusia. Aku bersekolah, aku bekerja, aku menikah, aku tua, aku mati. Aku ingin meng-auto-pilot-kan hidupku dan tidur. Tidur sampai aku dibangunkan di kehidupan lainnya. 

Memento vivere, memento mori. Aku ingin selalu hidup di saat aku tahu tahu aku akan mati, mungkin dalam waktu dekat. Kamu? Kamu bahkan sudah menyerah untuk mati sebelum mencoba mengendarai pesawatmu sendiri.

Tidak ada yang salah dengan hidup tua sebagai seorang kakek dikelilingi para cucu berisik, asal kamu menikmatinya. Tidak ada yang salah dengan auto-pilot, asal kamu tidak tidur selamanya.

Karena kita akan mati dalam kehidupan ini, aku selalu ingin bisa mencoba setiap hal untuk menciptakan dunia lebih baik lagi. Dimana mungkin Tuhan dan alam semesta memutuskan untuk kembali mengutus aku hidup di dunia sebagai manusia lain. 

Sebelum saat itu terjadi, aku ingin mengenal setiap orang lebih baik. Belajar hidup sehat, belajar mengerti, belajar bahwa musik adalah hadiah dari Tuhan untuk manusia seperti kita.

Aku ingin jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Aku ingin tangisan yang memerihkan seperih-perihnya. Aku ingin bahagia semaksimal-maksimalnya di hidup kali ini.

Kenapa kita bisa berteman? Mungkin ini alasannya. 
Aku perlu belajar bahwa suatu saat aku akan putus asa, aku akan memilih tidur sepanjang hidupku. Kau mungkin perlu belajar bahwa siapapun kita saat ini, kita harus berusaha menikmati semuanya sebelum kita benar-benar pergi.

Terima kasih Cedric, kau membuat otakku berpikir seperti seorang Soe Hok Gie. Mungkin kita akan bersahabat dengannya di masa yang lainnya. Atau bahkan sebenarya kau adalah Rene Descartes yang sudah putus asa mencari semua jawaban atas pertanyaan.

Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius. Tidak semua trik sulap harus kita bongkar. Menikmatinya saja sudah cukup. Jikalaupun kita sudah tahu bagaimana caranya terbang saat ini, bukankah kau harusnya berpikir bahwa pesawat adalah trik sulap Wright bersaudara yang memanfaatkan teori fisika?

Bukankah terbang menjadi sebuah hal yang masih spesial. Harga tiketnya masih mahal dibandingkan bus Mayasaribakti Blok M-Poris loh? 

Seperti semua teman-temanku, aku berharap kau akan memiliki kehidupan yang baik di dimensimu.

Terakhir, jika kau bisa melihatku di bawah sini di antara bintang dengan sayap malaikatmu, aku jatuh cinta dengan lirik lagu ini. Ini mengingatkanku bahwa aku bukanlah hal terpenting di dunia meski aku dapat melakukan yang tidak kau lakukan. Aku hanya manusia, sama seperti yang lainnya. Banyak hal yang tidak aku ketahui.

  1. Sekalipun diriku dapat berkata-kata
    dengan semua bahasa,
    bahasa manusia dan bahasa malaikat,
    ataupun yang lainnya,
    tapi jika aku tak mempunyai kasih,
    aku serupa gong yang menggema
    dan canang yang gemerincing.
  2. Sekalipun diriku memiliki karunia,
    karunia bernubuat,
    sekalipun diriku punya iman sempurna
    untuk pindahkan gunung,
    tapi jika aku tak mempunyai kasih,
    tiada berguna lagi diriku,
    tiada berguna diriku.
  3. Sekalipun diriku membagikan semua
    harta yang kumiliki,
    bahkan aku serahkan tubuh jiwa ragaku,
    dibakarpun ‘ku sudi,
    tapi jika aku tak mempunyai kasih,
    tiada berguna lagi diriku,
    tiada berguna diriku.

Harta, Tahta dan Wanita / Seks membuat kita memiliki sebuah kekuasaan, tapi untuk hidup ini aku hanya ingin berguna saja untuk manusia lain. Membuat diri kita berguna dengan kasih.


Yoan Letsoin







You Might Also Like

0 comments